Sunday, 16 October 2016

MAKALAH HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Pendidikan menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Revolusi di bidang teknologi komunikasi dan informasi ternyata telah mempengaruhi hampir seluruh sendi-sendi kehidupan manusia modern, termasuk dalam dunia pendidikan dengan munculnya istilah-istilah seperti e-learning, e-book sampai e-education. Revolusi ini juga berpengaruh pada paradigma pendidikan akan “tempat” belajar, dimana gedung sekolah yang berdiri tegak dengan atap dan dinding akan semakin tak populer karena manusia bisa belajar di mana saja dengan bantuan teknologi. Di sini yang terpenting adalah interaksi manusia itu dengan materi pelajaran dan proses terusannya, pemahaman dan penguasaan ilmu. Di mana (sekolah?) atau kapan (pagi atau siang?) tidak lagi menjadi pertanyaan penting, sebab otak manusia sekarang sudah terbiasa dengan konsep ruang dan waktu yang bersifat relatif.
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar.
Moh. Surya (1997) menyebutkan bahwa belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Proses belajar pada Hakikatnya juga merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat disaksikan. Manusia hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak. Oleh karena itu, George R. Knight (1982: 82) menganjurkan lebih banyak kebebasan untuk berekspresi bagi peserta didik dan lingkungan yang lebih terbuka sehingga peserta didik dapat mengerahkan energinya dengan cara yang efektif. Oleh karena itu, kegiatan belajar yang dilakukan orang bermacam-macam. Lebih lanjut, peserta didik harus dianggap sebagai makhluk yang dinamis, sehingga harus diberi kesempatan untuk menentukan harapan dan tujuan mereka sendiri dan guru (pendidik) lebih berperan sebagai penasehat, penunjuk jalan, dan rekan seperjalanan. Guru bukanlah satu-satunya orang yang paling tahu. Oleh karena itu, pembelajaran harus berpusat pada peserta didik (child centered), tidak tergantung pada text book atau metode pengajaran tekstual.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengajukan makalah yang berjudul “Hakikat Belajar dan Pembelajaran 1” yang nantinya dapat memperjelas pengertian dan Hakikat dari belajar, termasuk didalamnya jenis-jenis belajar.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan diajukan penulis pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan belajar?
2.      Bagaimana pengertian belajar menurut beberapa ahli?
3.      Bagaimana ciri-ciri belajar?
4.      Apa saja jenis-jenis belajar?
1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui, memahami sekaligus memaparkan pengertian belajar termasuk juga pengertian belajar menurut beberapa ahli.
2.      Untuk mengetahui dan memahami ciri-ciri belajar.
3.      Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis belajar.
1.4  Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, kami menggunakan metode pengumpulan data, yaitu metode dengan mengumpulkan data dan mencari data tersebut di buku-buku maupun internet. Kemudian memahami data-data yang telah didapatkan dan menyusun menjadi sebuah makalah.
1.5  Manfaat Penulisan
Hasil pembuatan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis, sebagai berikut :
a.       Secara teoretis
Hasil makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca khususnya mahasiswa dalam hal yang berkaitan dengan Hakikat Belajar dan Pembelajaran 1.
b.      Secara praktis
Melalui pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan berfikir dan kemampuan menganalisis suatu hal yang terkait, dan juga sebagai salah satu syarat penilaian mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk didalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar.
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan,  kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan.
Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.
Pada dasarnya belajar merupakan tahapan perubahan prilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (syah, 2003), dengan kata lain belajar merupakan kegiatan berproses yang terdiri dari beberapa tahap. Tahapan dalam belajar tergantung pada fase-fase belajar, dan salah satu tahapannya adalah yang dikemukakan oleh witting yaitu :
·         Tahap acquisition, yaitu tahapan perolehan informasi;
·         Tahap storage, yaitu tahapan penyimpanan informasi;
·         Tahap retrieval, yaitu tahapan pendekatan kembali informasi (Syah, 2003).
Definisi lain menyebutkan bahwa belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat (W. Gulö, 2002: 23).
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Dengan demikian dapat disimpulkan belajar adalah perubahan tingkah laku pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga yang menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya.

2.2 Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
1.      James O. Whittaker
Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999).
2.      Winkel
Belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap.
3.      Cronchbach
Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999).



4.      Howard L. Kingskey
Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999).
5.      Drs. Slameto
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu  itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999).
6.      R. Gagne
Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999).
7.      Herbart (swiss)
Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafalan.
8.      Robert M. Gagne dalam buku: The Conditioning Of Learning
“Learning is change in human disposition or capacity, which persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a growth.” (Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karena proses pertumbuhan saja). Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalm diri dan keduanya saling berinteraksi.
9.      Lester D. Crow and Alice Crow  
Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes (Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap).
10.  Ngalim Purwanto (1992)
Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalaman.
11.  Ernest R. Hilgard
Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, kemudian menimbulkan perubahan, keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya (Sumardi Suryabrata, 1984:252)

12.  Hilgard dan Bower
Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respons pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat, misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya (Purwanto, 2002:84).
13.  Morgan
Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Purwanto, 2002:84).
14.  Witherington
Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian (Purwanto, 2002:84).
15.  Travers
Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku (Suprijono, 2009:2)
16.  Harold Spears
“Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar, dan mengikuti arah tertentu.” (Suprijono, 2009:2)
17.  Geoch
“Learning is change in performance as result of practice (belajar adalah perubahan performance sebagai hasil latihan.” (Suprijono, 2009:2)
18.  Skinner
Belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar maka responsnya menurun.

2.3  Ciri-ciri Belajar
Hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku sehingga menurut Djamarah (2002:15) belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar.
2.      Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3.      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4.      Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara.
5.      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6.      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
7.      Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
8.      Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
9.      Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
10.  Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
Dari beberapa ciri-ciri belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh. Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1.      Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional)
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
2.      Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang “Hakikat Belajar”. Ketika dia mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya tentang “Hakikat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan “Strategi Belajar Mengajar”.
3.      Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
4.      Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
5.      Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
6.      Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
7.      Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
8.      Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar.”
Menurut aliran Humanis bahwa setiap orang menentukan sendiri tingkah lakunya. Orang bebas memilih sesuai dengan kebutuhannya. Tidak terikat pada lingkungan. Hal ini sesuai dengan Wasty Sumanto yang dikutip dari Darsono (2000:18) bahwa tujuan pendidikan adalah membantu masing-masing individu untuk mengenal dirinya sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri masing-masing. Menurut pandangan dan teori Konstruktivisme (Sardiman, 2006:37) belajar merupakan proses aktif dari si subyek belajar untuk merekonstruksi makna sesuatu baik tes, kegiatan dialog, pengalaman fisik dan lain-lain. Belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan dengan pengalaman atau bagian yang dipelajarinya dari pengertian yang dimiliki sehingga pemahamannya menjadi berkembang.
Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa ciri atau prinsip dalam belajar menurut Paul Suparno seperti dikutip oleh Sardiman (2006: 38) yang dijelaskan sebagai berikut:
1.   Belajar mencari makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat,dengar, rasakan, dan alami.
2.   Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus.
3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan tetapi perkembangan itu sendiri.
4.   Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subyek belajar dengan dunia fisik dengan lingkungannya.
5.   Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui si subyek  belajar, tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yangtelah dipelajari.
Berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka proses mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa merekonstruksi sendiri pengetahuannya dan menggunakan pengetahuan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, guru sangat dibutuhkan untuk membantu belajar siswa sebagai perwujudan perannya sebagai mediator dan fasilitator.
2.4  Jenis-jenis Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam. Untuk belajar itu sendiri memilki jenis-jenis yang berbeda, layaknya orang yang memiliki berbagai kebutuhan dan tujuan yang berbeda pula.
Di bawah ini akan kami paparkan apa saja yang termasuk jenis-jenis belajar:
1.      Belajar Abstrak
Belajar jenis ini sering diartikan dengan belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah yang tidak nyata. Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak, diperlukan nalar yang kuat disamping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi. Seperti ilmu tauhid, filsafat Islam dan lain-lain.
2.      Belajar Keterampilan
Belajar jenis ini adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik, yakni yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot-otot. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh dan menguasai keterampilan-keterampilan jasmaniah tertentu. Dalam belajar jenis ini, latihan-latihan secara intensif dan teratur amat diperlukan. Misalnya : wudhu, tayammum, haji dan pelajaran lain yang menyangkut soal keterampilan dalam Islam.
3.      Belajar Sosial
Belajar jenis ini adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah social seperti keluarga, persahabatan, kelompok, dan masalah-masalah lain yang bersifat social atau kemasyarakatan. Belajar social juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proposional. Dalam pembelajan PAI muatan belajar sosial ini adalah pendidikan Akidah Akhlak.
4.      Belajar Pemecahan Masalah
Belajar jenis ini adalah belajar dengan menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Artinya, belajar jenis ini tampak pada penggunaan pendekatan sistematis, logis, teratur, dan teliti sebagai dasar pemecahan masalah. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Untuk mencapai tujuan belajar jenis ini, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan.
5.      Belajar rasional
Belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional sering disebut belajar rasional. Tujuan belajar jenis ini adalah untuk memperoleh bermacam-macam keecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep. Belajar jenis ini erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalahnya. Melalui belajar jenis ini, diharapkan memiliki kemampuan rasional, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis.
Bidang-bidang studi yang dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional, sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak member tekanan khusus pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang-bidang studi noneksakta pun dapat member efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional
6.      Belajar kebiasaan
Belajar jenis ini diartikan dengan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar jenis ini selain menggunakan perintah, contoh atau tauladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hokum-hukum dan ganjaran. Tujuan belajar ini adalah agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu. Dengan perkataan lain, selaras dengan norma-norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religious maupun tradisional dan cultural.
7.      Belajar apresiasi
Belajar jenis ini sering diartikan dengan belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa seperti kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, music, dan sebagainya. Mata pelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi, antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan, kesenian, dan menggambar. Dalam mata pelajaran agama islam, jenis belajar ini tampak pada apresiasi siswa terhadap seni membaca alqur’an dan kaligrafi.
8.      Belajar pengetahuan
Belajar jenis ini dikenal dengan belajar studi. Belajar pengetahuan adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap suatu objek pengetahuan tertentu. Tujuan belajar jenis ini adalah agar siswa memperoleh tambahan informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu. Seperti dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.
Adapun jenis-jenis belajar menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
A.    Syah (1996), Slameto (1991 : 5-8)
1.      Belajar bagian
2.      Belajar dengan wawasan
3.      Belajar diskriminatif
4.      Belajar global atau keseluruhan
5.      Belajar incidental
6.      Belajar instrumental
7.      Belajar intensional
8.      Belajar laten
9.      Belajar mental
10.  Belajar produktif
11.  Belajar verbal.
B.     Menurut Robert M. Gagne
Manusia memilki beragam potensi, karakter dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipe-tipe belajar yang dilakukan manusia. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
1.   Belajar isyarat (signal learning)
Menurut Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
2.   Belajar stimulus respon
Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping). Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member pertanyaan kemudian murid menjawab.
3.   Belajar merantaikan (chaining)
 Tipe ini merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
4.   Belajar asosiasi verbal (verbal Association)
Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
5.   Belajar membedakan (discrimination)
Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.


6.   Belajar konsep (concept learning)
Belajar mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
7.   Belajar dalil (rule learning)
Tipe ini meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
8.   Belajar memecahkan masalah (problem solving)
Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule). Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut.

C.    Menurut Bloom
Benyamin S. Bloom (1956) adalah ahli pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konseptaksonomi belajar. Taksonomi belajar adalah pengelompokkan tujuan berdasarkan domain atau kawasan belajar. Menurut Bloom ada tiga domain belajar yaitu :
1.         Cognitive Domain (Kawasan Kognitif)
Yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bisa diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:
§      Pengetahuan (Knowledge).
§      Pemahaman (Comprehension).
§      Penerapan (Aplication)
§      Penguraian (Analysis).
§      Memadukan (Synthesis).
§      Penilaian (Evaluation).
2.         Affective Domain (Kawasan afektif)
Yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:
§      Penerimaan (receiving/attending).
§      Sambutan (responding).
§      Penilaian (valuing).
§      Pengorganisasian (organization).
§      Karakterisasi (characterization)
3.         Psychomotor Domain (Kawasan psikomotorik)
Yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:
§      Kesiapan (set)
§      Meniru (imitation)
§      Membiasakan (habitual)
§      Adaptasi (adaption)
D.     Penggabungan Dari Tiga Ahli (A. De Block, Robert M. Gagne, C. Van Parreren)
1.      Belajar arti kata-kata
Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan.
2.      Belajar Kognitif
Tak dapat disangkal bahwa belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental. Objek-objek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental.
3.      Belajar Menghafal
Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan {diingat} kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli, dan menyimpan kesan-kesan yang nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali kealam dasar.
4.      Belajar Teoritis
Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta {pengetahuan} dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat difahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah.
5.      Belajar Konsep
Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu.
6.      Belajar Kaidah
Belajar kaidah {rule} termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual {intellectual skill}, yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang mereprensikan suatu keteraturan.
7.      Belajar Berpikir
Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan.masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.
Konsep Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk pemecahan masalah sebagai berikut:
§      Adanya kesulitan yang dirasakan dan kesadaran akan adanya masalah.
§      Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
§      Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan.
§      Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, kemudian hipotesis-hipotesis itu dinilai, diuji, agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
§      Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sabagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai pada kesimpulan.
Menurut Dewey, langkah-langkah dalam pemecahan masalah adalah sebagai berikut.
§      Kesadaran akan adanya masalah.
§      Merumuskan masalah.
§      Mencari data dan merumuskan hipotesis-hipotesis.
§      Menguji hipotesis-hipotesis itu.
§      Menerima hipotesis yang benar.
E.      Menurut UNESCO
UNESCO telah mengeluarkan kategori jenis belajar yang dikenal sebagai empat pilar dalam kegiatan belajar ( A. Suhaenah Suparno, 2000 ) :
1.      Learning to know
Pada Learning to know ini terkandung makna bagaimana belajar, dalam hal ini ada tiga aspek : apa yang dipelajari, bagaimana caranya dan siapa yang belajar
2.      Learning to do
Hal ini dikaitkan dengan dunia kerja, membantu seseorang mampu mempersiapkan diri untuk bekerja atau mencari nafkah. Jadi dalam hal ini menekankan perkembangan ketrampilan untuk yang berhubungan dengan dunia kerja.
3.      Learning to live together
Belajar ini ditekankan seseorang/pihak yang belajar mampu hidup bersama, dengan memahami orang lain, sejarahnya, budayanya, dan mampu berinteraksi dengan orang lain secara harmonis.
4.      Learning to be
Belajar ini ditekankan pada pengembangan potensi insani secara maksimal. Setiap individu didorong untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri. Dengan learning to be seseorang akan mengenal jati diri, memahami kemampuan dan kelemahanya dengan kompetensi-kompetensinya akan membangun pribadi secara utuh.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan.  Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Belajar adalah perubahan yang terjadi secara sadar.
2.      Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
3.      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4.      Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara.
5.      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
6.      Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
7.      Adanya kemampuan baru atau perubahan.
8.      Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
9.      Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha.
10.  Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan.
Sedangkan jenis-jenis belajar, yaitu belajar abstrak, belajar keterampilan, belajar sosial, belajar pemecahan masalah, belajar rasional, belajar kebiasaan, belajar apresiasi dan belajar pengetahuan. 
 
3.2     Saran
Belajar merupakan suatu keharusan, disadari atau pun tidak. Namun, proses belajar akan lebih efektif jika seseorang menemukan metode belajar yang tepat, metode belajar yang tepat akan mengefektifkan proses penyerapan ilmu. Oleh karena itu, kenalilah dirimu dan temukanlah metode yang paling sesuai dengan kepribadian masing-masing.
Sehubungan dengan hasil penulisan makalah ini, penulis menyarankan kepada para pembaca agar diadakan pengkajian lanjutan yang berjudul sama dengan makalah ini, agar ditemukan pengertian dari Hakikat belajar dan pembelajaran yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
http:// ichaledutech.blogspot.com
http:// joegolan.wordpress.com
Muhammad Thobroni, Arif Mustafa. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media